Friday, April 15, 2011

Sowan ke Jogja

Terakhir kali ke Jogja 5 tahun yang lalu. Bagiku Jogja nggak banyak berubah. Kotanya hangat meskipun kala itu cuaca sedang nggak bersahabat: hujan-terik datang semaunya.

Wew, kok tiba-tiba jadi puitis.

Kali ini kunjungan kerja 3 hari saja bareng satu kolega lokal dan satu kolega Eropa. Pagi-pagi buta berangkat dari rumah di Ragunan ke Soekarno-Hatta ngejar penerbangan terawal pukul 6 pagi. O please, aku paling benci naek pesawat pagi-pagi! Nyampai di Jogja baru sadar kolega lokal yang barengan sama aku ketinggalan di airport di Jakarta. Wakaka.. kocak.. Eh kasihan, denk.. beliau nggak mendengar waktu flight calling dikumandangkan. Duh.. Jadilah kami berdua, aku dan londo menunggu teman yang ketinggalan yang nunggu pesawat di Jakarta. Kami duduk-duduk di cafe bandara Jogja.

Temenku londo kebetulan punya hobi ngeselin: kebanyakan tanya. Kalau bisa yang ditanya sampai nangis ngejer nggak bisa jawab gitu deh. Kali ini dia nanyain soal temen lokal yang ketinggalan pesawat itu, tanyanya dalam bahasa Inggris, "Kenapa dia bisa ketinggalan pesawat? Apa dia telat bangun?"

"Dia tidak telat bangun, sudah datang waktu kita tadi di bandara, " jawabku santai. Rada kesel, bukannya dia udah tahu si bapak yang ketinggalan tadi udah di bandara. Masiiih aja nanya..

"Lalu kenapa bisa ketinggalan?"

"Karena kata beliau..., " sambil buka sms kiriman dari teman yang ketinggalan tersebut dan menyodorkan layar hape ke muka silondo, "Neh! Katanya nggak dengar waktu dipanggil."

"Ahh.. kenapa nggak dengar?"

Aku kehabisan ide. Kujawab ngasal, "Faktor U."

Silondo ngakak berat.

"Memangnya ngerti apa itu faktor U?" aku bertanya balik. Soalnya dia juga belajar bahasa Indonesia dan mengerti 80 persen istilah-istilah bahkan slang Indonesian, jadi kali aja dia tahu apa itu faktor U. Faktor U alias faktor usia.

"Enggak," jawabnya. Jiahh.. Gubrak!

Beberapa kawan yang bukan asli Jawa pada betah tinggal di Jogja. Bahkan silondo ngaku kalau Jogja itu ngangenin nggak seperti di Jakarta. Tapi aku sendiri kalau ditanya, pendapatku Jogja itu biasa saja. Malah rada dejavu waktu mendarat di bandara dan melaju di jalanan: "Eh, kok ini kita lagi di Sidoarjo ya?" gumamku bego.

Silondo pun nyamber, "Where is Sidoarjo?"

Daaan, aku memilih hotel Cakra Kembang di kawasan Kaliurang untuk kami menginap. Hotelnya nyaman dan nggak mahal, about two hundreds something per night bisa untuk dua orang. Yah kalau mau murah bisa aja sih di hotel backpacker tapi bayangin bed bugs nya itu rada merinding. Kalau ditambahin dikit bisa stay di hotel senyaman ini. Di sini nggak susah cari makan dan ada minimarket buka 24 jam. Menurutku kuliner Jogja biasa aja. Beberapa waktu lalu sempet dateng ke TIM untuk event kuliner Jogja. Angkringan, sate klatak, gudeg, dan sebagainya memang rasanya enak sih tapi biasa aja nggak favorit. Yang kusuka malah rujak eskrim, tapi pas ke Jogja ini nggak kutemui orang jualan rujak eskrim. Ketemu satu lokasi ada papan plang-nya bertuliskan "Rujak Eskrim", tapi setelah didekatin ternyata bengkel. Duh!

hotel tempatku menginap

Di Jogja kami mengunjungi semua kabupaten, bertemu dengan penduduk-penduduk desa seperti biasanya. Itu sebabnya perjalanan-perjalanan bisnis selalu berkesan, malah kadang banyak hal-hal yang tak terduga dan mungkin jarang dialami traveller pada umumnya. Seperti waktu ke Bali, aku mengunjungi lokasi-lokasi pusat pemerintahan yang baguuuuus dan sama sekali nggak disentuh turis. Pokoknya yang nggak berkepentingan dilarang masuk. Di Jogja kami mengunjungi peternak-perternak dan kelompok tani. Kesannya membosankan sih, tapi aku menikmati sekali. Di Jogja ini yang unik, kami disambut bak selebritis. Maklum, orang Jawa memang kalau sama tamu sangat ngajeni (baca: menghormati). Luarr biasa!

Sampai di suatu desa kami disuruh duduk di aula. Di situ kami berdiskusi dengan kelompok tani mengenai ternak-ternak mereka. Kami berbicara pakai microphone gede warna oranye gitu. Pikirku, lucu nih microphone. Oiya, suaraku jadi kek penyanyi juga lho. Mereka, orang-orang desa tersebut berbicara sangat santun dan formal, jadi serasa diwawancara televisi gitu. Eh nggak taunya! Microphone oranye tersebut terhubung dengan saluran radio desa! Jadi kami ngobrol-ngobrol itu live dibroadcast via radio lokal. Alamak!

Karena jadwal kerja yang padat, sedikit sekali waktu dolan ke tempat-tempat turis. Malam sepulang urusan kerja menyempatkan jalan-jalan ke Malioboro. Nggak beli apa-apa sih, secara menurutku batik-batiknya justru lebih bagus dan murah di satu toko langgananku di Bali. Misalnya untuk batik Jawa persis motif dan kainnya, di Jogja 75.000 (mungkin bisa ditawar sampai 50.000), sedangkan di Bali cuman 25.000 saja. Nggak tahu juga kenapa di Bali ada yang jualan batik Jawa. Hehe.. Jadi, di Malioboro aku cuman foto-foto sama kuda.

kudanya ganteng-ganteng, tapi kasihan hik.. disuruh narik delman..

Hari terakhir kunjungan kerja ke Gunung Kidul. Alamnya cantik, meski beberapa lokasi di dusun masih tersisa debris gempa beberapa tahun silam. Di situ ada hotel-resto yang viewnya baguus banget. Dari situ juga bisa lihat crop circle yang pernah bikin heboh beberapa waktu lalu. Tapi sayangnya crop circle-nya udah tumbuh panjang jadi bentuknya sudah nggak nampak lagi.

bergaya dengan backgorund crop circle

sambil menyantap kuliner nasi merah khas Gunung Kidul

Kelar ke Gunung Kidul, masih sempetin ke Beringharjo yang katanya jual batik murah. Waktu kami kemari toko udah hampir tutup. Nanya-nanya harga, ternyata tetep lebih murah yang di Bali, tapi kain batik di Beringharjo juga beberapa item lebih murah ketimbang di Malioboro. Karena masih ada waktu kami ke Mirota. Tempatnya lebih cozy ada air conditioner dan display tertata cantik. Tapi aku nggak tahan sama bau dupanya itu loh. Mau berlama-lama tapi karena nggak tahan baunya jadi hanya 15 menit-an saja. Aku beli dua potong kain batik dan siap untuk dijahit sendiri.

pose di depan Beringharjo. Ups..ga sengaja salah posisi . Itu maksudnya parkir mobil di arah penunjuk panah penuh

7 comments:

  1. hihiihi...kmaren awal bulan maret aku juga ke jogja lho mom...


    insyaAlloh mau jadi orang jogja juli besok heheee

    ReplyDelete
  2. dibandingin wisata kuliner di Banjarmasin gimana?

    ReplyDelete
  3. @fajarembun: oyaah? wah dalam rangka apa? sekolah ya.. take care bom bom ^__^

    @Ladyonthemirror: hoho.. kalau kuliner Banjarmasin beda.. rasa dan penyajian eksoktik, nggak banyak ditemui di tempat lain

    ReplyDelete
  4. ciee mampir jogja nggak bilang-bilang. Saya lagi di Jogja loh Mami Ayuu.... iniii lagi dirumah. hahaha. ah, sayang cuman 3 hari. tadi pas liat foto emang langsung tau kalo itu di Cakra kembang, secara dulu ngamnpus disekitar situ jkadi emang wilayah jajahannya udah apal.. trus soal nasi merah, itu di daerah patuk yah?.. pas tanjakan naik ke atas, kalo mau ke wonosari.. disitu kalo malem asyik, namanya bukit bintang..

    ReplyDelete
  5. @Gaphe: yak betul semuanya! Selamat anda lulus menjadi warga Jogja.. btw daku keknya udah kasih tau via komen di postingan Gaphe yang Jogja.. ngabarin kalau mau ke situ LOL

    aih thanks rekomendasinya, mudah2an ada kesempatan ke Wonosari

    ReplyDelete
  6. hotelnya kayaknya bagus dan murahhh sekaleee....ahh tar kalo ke jogja nginep sonoh aja....*kapan???" hehhee..
    salam knal sis ...

    ReplyDelete
  7. @Jeng Anna: hello thanks sudah brkunjung, lam kenal juga.. selamat berencana sowan ke Jogja. Jangan lupa borong batik

    ReplyDelete

Hello, thanks for dropping your comment!