Thursday, April 21, 2011

Kartini-an

Suatu saat perjalanan tugas ke Ambon, sopirku menawarkan singgah ke sebuah lokasi yang katanya cukup terkenal.

"Usi, ayo kita ke patung nenek, "ujar si sopir. Usi itu panggilan untuk nona non-muslim. Well, hehe..

"Apa itu patung nenek?" tanyaku antusias.

"Baik, saya antar Usi ke sana. Itu lokasi terkenal. Usi bisa melihat juga kota Ambon dari atas." ujarnya. Yup, katanya lokasi patung nenek ada di atas bukit. Jadilah kami ke sana. Setelah sampai....

Patung yang disebut patung nenek adalah patung Martha Christina Tiahahu! Aku menepok bahunya keras, kumarahi dia, "Kurang ajar kau, itu pahlawan kau sebut patung nenek. Nggak hormat banget kau!"

"Ah, nenek saya juga orang terhormat. Dipanggilnya nenek juga, " ngelesnya. Rasanya pengen kutepok kepalanya pake kaki.

"Kau orang sini apa bukan, nggak kenal pahlawan sendiri? Christina Martha Tiahahu bahkan meninggal di usia belia. Sweet seventeen! Dari mana kau tahu dia nenek-nenek!" teriakku kenceng nggak mau kalah. Si sopir malah cekikikan. Wong edyan...

Kartini-an malah bahas Christina Martha Tiahahu? Ya, Kartini-an bagiku mengenang jasa semua pahlawan wanita Indonesia. Selain Kartini dan Christina Martha Tiahahu, ada Dewi Sartika dan Cut Nyak Dien. Mereka adalah pahlawan wanita di masa lampau yang kebetulan peringatannya nggak ada. Jadi Kartini-an seharusnya dijadikan momen untuk mengenang jasa para pahlawan wanita. Tidak cuman emansipasi di saat politik etis Hindia Belanda, tapi juga saat-saat Indonesia dipertahankan oleh wanita-wanita gagah berani; bagiku jasa mereka juga layak dikenang dan diteladani.

Aku hari ini ke kantor dengan berbusana tiada berkebaya maupun rok, sedangkan hampir semua wanita segedung di kantor ini memakai busana feminin dan ada kontes kebaya segala. Bukan mau membelot hari Kartini lho, tapi bagiku berbaju apa saja asal berusaha memiliki jiwa Kartini-an jauh nggak kalah penting. Orang-orang sekantor terheran-heran, biasanya aku berbusana sangat kemayu (eh kecuali di lapangan ya tomboy juga), hari ini berubah jadi mirip security guard. Sampai-sampai seorang teman memanggilku "Kartono". Ceeeileuh, bukannya apa yah! Kalau aku ikutan berkebaya kasihanlaaah cewek-cewek tercantik segedung kantor ini semua pada kalah cantik dan anggun sama aku. Hehehe huek, emosi dipanggil Kartono. Kebetulan hari ini aku ada latihan keamanan, jadi bajunya pas-lah.

Kiri kiri.. kanan kanan.. priit priit!

7 comments:

  1. "Kau orang sini apa bukan, nggak kenal pahlawan sendiri? Christina Martha Tiahahu bahkan meninggal di usia belia. Sweet seventeen! Dari mana kau tahu dia nenek-nenek!" teriakku kenceng nggak mau kalah. Si sopir malah cekikikan. Wong edyan...

    Hauhuahuahauhua........i like it

    ReplyDelete
  2. @peken: ehehee.. *tepok kepala Peken pake kaki*

    @sigitcawas: eh, ada Ernesto Groban.. dirimu nggak ikutan karnaval po? Tak pinjemin konde yang guede!

    @eko: sopo iki? Temon ya?

    ReplyDelete
  3. biar photonya gagah perkasa, tetep aja lipstikan sama maskara, cantik, trus kartononya mana *celingak-celinguk*

    ReplyDelete
  4. hhahah, sumpah, ini mah kartini versi GAGAH perkasa :P

    fotonya...cantik, jadi kangen ama pipi tembemku heheh

    ReplyDelete
  5. @Ladyonthemirror: waaaaahh.. jadi mamayu nih saya *tersapu-sapu maluh*

    @Mayyadah: Cihuy! Gagah perkasa seperti Gatot Kaca! Lah kok ditambahi sendiri.. haaaaaaha.. Makasihh Mayya.. sinih kalau kangen ama pipi tembemnya saya bagi-bagi punya saya :p

    ReplyDelete

Hello, thanks for dropping your comment!