Kata orang jangan terlalu membenci ntar kualat, sepertinya aku alami. Ada satu orang -bukan teman sih- nggak disukai banyak orang. Keliatan sih temennya nggak banyak. Dia londo asia. Meskipun begitu aku berusaha untuk bersikap nice ke dia hanya untuk menjaga etika saja. Bahkan kalau temen lagi ngomongin orang itu, aku malah suka ngebelain, "Jangan gitu, orangnya memang aneh tapi sebenernya baik." Kedengeran seperti aku lagi kumur-kumur nggak jelas, padahal tujuannya cuman satu: stop ngomongin dia. Sebenernya aku lebih benci dari kalian membenci dia, so nggak mau dengerin ada pembicaraan tentangnya. Hihi.. Yah, hanya dipendam dalam hati.
Suatu saat di nikahan kawan, ada sidia hadir datang sendiri. Teman-teman yang hadir serentak menjauh. Sementara aku mencari tempat memisah yang luang untuk memotret mempelai. Nggak disangka sidia ikutan ke tempat aku berdiri dan ikutan memotret. Aku memberikan senyum palsuku dan mengangguk hormat seraya berkata, "Hai."
Sesaat kemudian resepsi dimulai, MC membuka acara dengan memohon kepada tamu agung yang nggak taunya sidia untuk ke depan dan memberikan ucapan selamat kepada mempelai. Lucunya si MC ngomong pake bahasa Indonesia ya jelas sidia nggak paham. Mau nggak mau aku terjemahkan. Dia nggak ngerti-ngerti kenapa dia yang dipanggil. Karena si MC nyebut-nyebut terus namanya aku berinisiatif mengantarnya sampai ke depan, nggak peduli jadi pusat perhatian banyak tamu undangan. Maksudku biar nggak tambah ribet, lagian kasian dia bingung gitu. Kulihat temen-temen pada ngakak dari kejauhan ngeliatin aku pusing.
Sampai ke depan sidia masih melotot ke aku serasa nggak pede seolah berkata, beneran nih gue yang diminta ke depan. Aku memberi aba-aba dengan tangan supaya lekas ke depan dan salamin aja tuh mempelainya. Sang MC tiba-tiba berkata, "Ibu sekalian saja dengan bapak ke depan."
Sementara banyak pasang mata melihat ke arah kami terutama aku yang kikuk. "Saya bukan..." Doh rasanya mau harakiri, masa aku dikira bininya. Terbirit-birit aku berjalan menuju teman-temanku yang udah pada ngakak di barisan belakang. "Asemmmm, Rek!"
Puas diledekin, aku dan teman-teman ikutan ngantri salaman ke mempelai dan para orang tua yang berdiri di samping kedua mempelai. Salah seorang ortu mempelai sambil menyambut salaman tanganku berkata, "Thankyou."
Gubrak! Bener-bener salah paham massal! Padahal saat itu aku pake kostum tradisional Bali loh.. mosok dikira londo asia (lihat skrinsut di bawah).
Teman-teman makin kepingkal-pingkal puas.
jamu jamu...
wahaha.. lucu mam... mosok ya sampe dikira bininya?.
ReplyDeleteeh, katanya kalo benci bisa jadi cinta to?.. jadii udah cinta sama bule lodoo itu belom?
#dikeplak
wakakak...
ReplyDeletemak jusss.. :-D
eh,maaf bu.jgn laporka saya ke bapak ya?
*ngakak2 lagi*
untung di dia ngga enak di elu...he...he...
ReplyDelete@Gaphe: hasyahhhhh.. ga pake lovelove-an *KEPLAK KEPLAK KEPLAK*
ReplyDelete@Pakde Fahmi: *bekep pake guling bekas iler*
@Ladyonthemirror: ho-oh kapok deh.. besok besok bencinya dikit aja (T.T)
lanjutkan mam, siapa tau jadi kenyataan :D
ReplyDeletehaha..*ngakak*
ReplyDeleteopss..siap2 dilempar batu sama mami nih..
jadi inget lagu jadul "benci-benci tapi rindu sayang"... hahaha
ya gitu tuh biasanya hihihi... trus akhirnya happily ever after ga? (ninja)
ReplyDelete@niko: daku bingung.. ini yang lebih fokus londonya ya bukan moral story-nya! *nangis ngejer*
ReplyDelete@novia: alamakkkkk...
@Ditya: ya ampuuuun >,<