Hehehe... Wew!
Beberapa lokasi dan situasi membuat panggilan yang ditujukan ke aku beraneka-macam:
Mall Surabaya: "Ce, beli emasnya, Ce..." (Well, I'm definitely not Chinese.. zzzzzz)
Pasar Grosir Cililitan, Jakarta: "Kak, CD bunga-bunga sepuluh ribu dapat tiga..."
Terminal Ledeng, Lembang-Bandung: "Teh, duduk depan aja.. Bangku belakang sempit ntar..."
Kota Ambon: "Usi, kaosnya murah, yang size XXL ada..." (wahahha.. no comment. Kok aku jadi bayangin Usi Sulistyowati yah? Apa aku mirip dia???) *Usi itu sebutan untuk perempuan non-muslim*
Di luar negri: "Madam, due to security reason, mind if you seat near to the exit window?" (maksudnya gua disuruh ngangkat jendela ya. hiyahahah.. ! Madam yang perkasa)
Di Jawa sudah lazim sebutan perempuan dengan embel-embel "Mbak" dan laki-laki "Mas". Aku pernah ngempet ngakak waktu temen aku ngerjain temen bule Pakistan. Temenku bilang ke si bule Pakistan itu kalau nama lengkapku ada "mbak"-nya. Jadi seperti ini:
"Hello, Mbak Ayu..."
DAN MENURUTKU BULE MANGGIL PAKE "MBAK" ITU ANEH...
Sebenarnya aku nggak keberatan dengan semua panggilan itu. Malahan seru dengan di mana kita berada panggilan/salutation juga berubah. Ini semacam keuntungan juga, seandainya kamu tersesat lalu pingsan dan saat sadar seorang jejaka tampan mengatakan: "Teteh, diminum teh-nya.." NAH, sudah bisa dipastikan anda berada di Jawa Barat (kalau nggak si orang Sunda yang nyasar di tempat itu, beda kasus).
Cuman, aku kadang risih kalau orang memanggil aku tanpa sebutan atau embel-embel. Orang-orang itu -nggak semua sih- ya, yang menurutku nggak pantes aja kalau manggil aku langsung nama. Kalau di Jawa kesannya nggak sopan. Seperti misalnya ibu kos di Jakarta, baru kenalan langsung manggil nama. Ibu-ibu tetangga di Surabaya aja kalau manggil aku pake embel-embel "Mbak" atau "Dek", maklum budaya Jawa. Apalagi temen yang jelas-jelas umurnya jauh di bawahku; kalau manggil aku nggak pakai "Mbak" gitu rasanya pengen tak tendang. Tapi, yah... aku nggak pernah protes. Takutnya salah sangka, ntar aku dianggap gila hormat lagi. Susah juga, kan?
Aku pernah curhat ke temen yang orang Jakarta soal ini. Kata doi, panggilan nama langsung itu maksudnya akrab. Weh, tapi aku tetap merasa aneh, ya....
Tapi baru-baru ini aku mendapat panggilan baru dari SPG-SPG di mall: "Bunda".
coba perhatikan dengan seksama, tampang gadis 17 tahun ini apakah mirip ibu-ibu?
note: postingan ini tidak bermaksud sara, hanya menunjukkan keragaman adat dan kebiasaan
i.jpg)
hmm, ya enaknya emang dipanggil mami aja :-D
ReplyDelete@abank ajo: haaahaa... iyaah dan entah kenapa aku juga suka dengan panggilan mami,, singkatan dari mamisinga
ReplyDeletenona signorita :D
ReplyDelete@Guest: gubraks!
ReplyDeletebuk, beli bajunya buk!
ReplyDeletepaling LOL sama komen tukang angkot di ledeng itu... "Teh, duduk depan aja.. Bangku belakang sempit ntar..." :-D
ReplyDeleteMba Ayuuuuuuuu........
ReplyDeletehihihiiiiii.....
@neng ucrit: waaahah iyah, Nak!
ReplyDelete@fahmi!: bakarrr tukang angkotnya! wkwkw..
ReplyDelete@Djamila Said: Mba Miiilllaaaaa... *pingsan*
ReplyDeletebunda? wakakaka astagah... berasa emak2 dah =-X
ReplyDeleteaku lebih suka manggil kamu mami, dari mamisinga hehehe
kalo di Martapura mau beli berlian dipanggil, Ding...Ading bungas (adik cantik)...he...he...
ReplyDeleteah kalo aku sih di dumay manggil yang cewek 'teh' terus kalo yang cowok 'kak'
ReplyDeletehehe
hmm bentar..
17thn??
beneran??
lha kalo gitu kita seumuran dunx..
hehe
Nooonnn...
ReplyDeletewaduh, kaya pembantu manggil majikannya :-P
Iya kayaknya enakan dipanggil mami aja .. :-D
ReplyDelete@ipied: wahaha.. itu SPG2 kukira emang diajarin manggil Bunda, tapi ga juga.. coz mereka manggil yg lain "Kak" manggil aku "Bunda".
ReplyDeleteIyaah aku syuuka dipanggil "mamicingaaa" :-[
@Ladyonthemirror: waahhh kok saya ke Martapura ngga dipanggil gitu yaaah.. pengen dipanggil gitu juga :-D "Ading Bungas" cikiciiiiiewww..!
ReplyDelete@Akane: *tossss* kita seumuran.. hehe...
ReplyDeletewah Dumai, Sumatra?? manggil teteh juga?
@Merry go Round: hehe... iyah Nyah...
ReplyDelete@draguscn: Iyah,,, I like it! :-[
ReplyDelete