Banyak yang pake Blackberry. Latah atau emang butuh?
Masih kuingat dulu betapa gigihnya aku menolak anjuran bos untuk pake Blackberry (BB). Karena aku nggak mau hidupku jadi abnormal gara-gara BB. Sangat tampak nyata betapa autis-nya teman-teman di kantor seharian kencan dengan BB. Hohoho..! Bukan, bukan untuk ngecek Facebook loh.. tapi demi urusan kantor. Tapi sekarang, BB dah (kayanya) beralih fungsi... Ya itu, buat fesbuk and YM. Pis.. pis.. buat yang merasa.. (LOL).
Kenapa BB? Karena BB bisa terima email real time. Itu yang jadi keuntungan buat kami para pekerja yang mengandalkan komunikasi via email. Bahkan chatting juga mengandalkan email. Bayangin aja, untuk bahas satu topik yang replaynya sedikit tapi sahut-sahutan, bukannya pake chat via YM atau Skype, kita malah pake email. Orang bule juga banyak yang nggak punya akun YM. Kami kebetulan dibekalin akun email corporate kantor.
Punya BB kudu dipertimbangkan untung ruginya. Seperti misalnya karena perbedaan waktu dunia, aku sering banget bangun tengah malam buat buka email.
Bule-bule di luar negeri banyak yang nggak ngerti BB. Tapi internet gampang aksesnya. Makanya buat mereka yang nggak punya BB juga nggak masalah. Masih kuingat waktu ke Eropa, seorang temen dari Machedonia dengan bangganya nunjukkin Nokia 3300. Padahal itu handphoneku jaman kuliah. Hihih.. jangan-jangan Indonesia emang pangsa konsumtif untuk handphone dan sejenisnya.
Entah gara-gara James Bond, atau orang-orang pada nggak bisa hidup tanpa update Facebook-nya, rela cari BB.. Meski (kupikir) mereka nggak butuh-butuh amat. Yah, kecuali buat mereka yang mengfungsikan BB jadi media penghibur.. (^.^)v Nggak ada salahnya..