Monday, December 08, 2014

Sibuk JFW kemarin

I'm back!

Hohoho.. lama nggak bersua (sampai lupa punya blog!), banyak hal yang menjadi alasan kenapa menghilang dari peredaran netizen. Salah satunya, sibuk meng-ertong (baca: ngartis) via ajang ByeByeBig (BBB) yang dihelat Roche, Women's Health Indonesia, Gold's Gym, dan Reebok. Thanks so much all and especially my supporter..my family, friends, and ke-empat teman BBB lain yang cantik-cantik Linda, Pracil,Mbak El and Rere. Huhuhu.. peluk satu-satu 

Dalam program ini aku dipantau intensif oleh dokter spesialis gizi, spesialis olahraga dan seorang Personnal Trainner (PT) berupa konsultasi dan olahraga 3 kali seminggu. Awalnya mikir, bisa nggak ya menurunkan bobot awal 90kg selama 5 bulan. Apalagi kesibukan di kantor dan kuliah menyita hampir seluruh waktu. Mau nggak mau, konsul dan olahraga-nya sepulang kantor yang rasanya udah capeeek..maleees..Mana tinggalnya sekarang jauh dari Jakarta. Tapi akhirnya dengan komitmen, bisa juga nurunin sampai 14 kilogram. Ditambah lagi support dari PT-ku yang suabare pol, Mas Dion Sitanggang yang kece. Hehe...Ohiya, hampir tiap bulan wajahku nongol di majalah Women's Health Indonesia baik edisi cetak maupun electronic. Awalnya sih malu-malu nggak cerita-cerita sama teman sekantor, tapi akhirnya ketahuan juga. Hahahaaa..! 

Sebagai gong-nya, kami tampil di acara Fashion show termegah se-Indonesia, Jakarta Fashion Week (JFW) 2015. Padahal seumur-umur belum pernah dateng untuk nonton acara ini dan nggak nyangka bisa tampil di panggung sebagai model, sebagai the muse! Thanks Sosi, Mas Alfred, Sosi, Om Son and Ari DCC atas kedatangannya nonton daku JFW. 

Alhamdulillah, banyak pengalaman tak ternilai dan yang paling berharga adalah tercapainya tubuh sehat yang merupakan investasi jangka panjang. Setelah ini, targetku karena udah bisa menurunkan berat adalah pengen kembali ke laut. Sudah sanggup berdiri di papan seluncur ini, kok. Yes, surfing! Yay! 

Tampil di JFW 2015 (aku paling kiri) dengan balutan adi busana Java Diva karya desainer kondang Anthony Bachtiar. Foto diambil dari sini


Sunday, April 27, 2014

Nanya status

Saat itu duduklah dalam satu meja makan: aku, mbak Martha, mas Rinto, Dhony dan satu londo yang fasih berbahasa Indonesia. Mbak Martha orang Batak dan mas Rinto orang Jogja. Dua orang ini penasaran sama status pernikahan si londo. Yah biasa lah orang Indonesia paling kepo soal beginian ke orang yang baru dikenal....

Si londo dan Dhony lagi asik ngobrol berdua. Aku asik menikmati makanan. Mbak Martha dan mas Rinto kasih kode-kode..

Martha: “Mbak Ayuk, keluarganya si `itu` di mana? Maksudku sudah punya..anu kah” sambil ngerling-ngerling kode-kode. Mas Rinto angkat-angkat alis sepertinya penasaran juga.
Aku: “Oh. Itu. Wis pegat.” Jawabku sambil suap-suap makanan. Pegat artinya cerai. Sengaja berbahasa Jawa takutnya si londo ngerti kalau pakai kata cerai itu lagi ngomongin dia.
Martha: “Apa itu mbak, pegat?”
Aku: “Duh apa ya…” tepok jidat. “Mas Rinto, opo yo pegatan kuwi… kata lain-e?”
Rinto: “Mmm..pegat…opo yo,” sambil mikir-mikir.
Aku: “Misale sandal yo mbak, lek pedhot nah kuwi…”
Martha: “Aku kan orang batak nggak ngerti”
Aku: “Duh apa donk kata lainnya.. Diriku nggak ngerti bahasa batak juga sih. Mas Rinto, ada ide?”
Martha: “Apa pegat?” Nggak sabaran sambil nepok bahu mas Rinto.
Rinto: “Pegat itu… divorce.”  

Si londo menoleh ke arah kami seketika. Aku kesedak nasi. Jiahhh…

Nostalgila Do fun

Jadi, kemaren lalu aku terusik sama ketawa nggak enaknya Agil, temenku di lapak orenz (guys please sesama lapak orenz diem-diem aja ye… jangan sebut nama lapaknya!) 

Ceritanya kan Agil lapor habis ke dufan. Katanya sih mabok abis naik kicir-kicir apa tornado gitu. Terus dengan polosnya (dan bodohnya) aku komen kalau dia sungguh pemberani bisa main wahana itu, sedangkan aku cuma berani ke rumah boneka. Lalu ketawalah si Agil dengan ngece-nya... 

Jadi nostalgila. Dulu awal-awal ke dufan saat masih SD kelas 1 dan di sana cuma foto-foto sama mascot bekantan dufan. Kesempatan keduanya waktu udah gede dan tinggal di Jakarta. Kala itu dolan ke dufan bareng orang-orang sekantor termasuk satu orang bule ameriki sebutlah kakak amrik yang orangnya sebenernya baik tapi kadang suka memaksakan kehendak.

Wahana pertama yang kami coba adalah “halilintar”. Halilintar itu kereta cepat yang meliuk-liuk sampai kepala di bawah, badan di atas. Pertamanya sih aku keder dan bilang nggak mau. Aku dibujuk-bujukin sampe akhirnya ngalah dan baca Bismillah berkali-kali. Aha! Sukses kereta meluncur hanya beberapa detik, teriakan teman-teman sampai memekakakkan telinga. Cuman aku yang nggak teriak dan malah memejamkan mata. Sedetik setelah kereta berhenti, aku nangis sekenceng-kencengnya. Kakak amrik sampe ketakutan. Hahahaaa..!

Percobaan wahana kedua adalah “kora-kora”. Kami naik perahu raksasa terus perahunya digoyang-goyang setinggi-tingginya. Aku pun sukses nangis jejeritan, mana aku duduknya paling ujung pula. Mungkin saking histerisnya, operator kora-kora sampai memberhentikan permainan sebelum waktunya berhenti. Ada anak kecil ngomel-ngomel, “Lho, kok sebentar sih maennya…”

Wahana ketiga. Aku nggak lanjut dan memutuskan untuk jagain tas teman-teman aja. Leherku kaku, tenggorokanku serak, dan mataku kabur karena kebanyakan nangis. Kepalaku pusing. Di akhir permainan aku baru berani ke rumah boneka. Kami cuma naik perahu terus masuk istana yang isinya boneka-boneka aja.. Not bad.

Sebelum pulang, kakak amrik menyempatkan ke permainan sebuah tabung berisi boneka yang diambil pakai capit. Aku dikasihnya boneka kelinci. Sampai sekarang kusimpan dan jadi mainan favorit kucingku. Kuberi nama “boneka erik” sesuai nama yang ngasih. Hahaaa.. menyebalkan.

"Gigit bonekanya!" 

Kunjungan dufan yang kedua. Harap-harap cemas apakah kali ini aku berani naik halilintar lagi. Kakak amrik malah coba naik kicir-kicir dan dia sudah nggak berani maksa-maksa aku naik. Aku sih baru nonton aja lemes. Selemes ibarat naik sepeda kayuh di jalanan trus disalip mobil. Nah, kayak gitu lho rasanya. Mencelosss bow… Kuputuskan seharian itu aku ke rumah boneka aja.

Aku pernah ke Universal Studio di Singapura. Ciamik tempatnya. Aku coba naik wahana transformer. Keren beud, seolah-olah ikutan berantem sama robot-robot. Tapi sepanjang naik itu sih mataku merem. Huahaha..

Saturday, February 01, 2014

Surabaya zoo, I miss you!


Pertengahan Januari lalu aku ditemenin mom menyempatkan diri mampir ke Kebun Binatang Surabaya (KBS) yang sempat terkenal sedunia itu. Bukan karena prestasinya, tapi karena beberapa berita buruk yang berhari-hari mampir di media massa cetak maupun elektronik. Sedih! KBS itu rumah kedua-ku di Surabaya, tempat teman-teman terbaikku tinggal. Aku pernah kerja libur di sana beberapa lama sampai ikutan mengasuh singa-singa dan harimau, makanya aku sampai dipanggil "mamisinga".

Pertama kali dengar Melani harimau Sumatra yang tinggal kulit dan tulang, perasaanku sedih. Kok bisa-bisanya sih, ngapain aja KBS selama ini. HARUSnya nggak perlu sampai ada jurnalis ngelapor dulu di media baru bertindak. HARUSnya Melani dapat pertolongan sejak awal. HARUSnya.... ah, sutralah.. Melani sekarang sudah di tempat yang lebih baik. Thanks to all people who help her. Cek update selengkapnya di sini.

Setelah baca berita KBS di sini, aku makin mantap ke Surabaya untuk menilik kabar terbarunya. Sempat diberitakan walikota Ibu Risma menyangkal dan meyakinkan bahwa KBS sekarang jauh lebih baik (baca selengkapnya di sini). Padahal saat itu muncul berita tentang tewasnya singa Michael tergantung di kandangnya. Kok bisa sih, Bu, Anda bilang KBS jauh lebih baik? Ibu walkot juga mengait-ngaitkan adanya beberapa pihak yang menginginkan lahan KBS jadi resto atau hotel. Yah, UUD (ujung ujungnya duit). Ayo Bu Risma, bantu perbaiki KBS.

Menurutku KBS itu masih banyak yang perlu dibenahi. Sempat nostalgia ngobrol sama staf di sana. Rada kaget juga, aku tanya, beberapa tahun  apa pernah para staff dikasih pelatihan khusus. Ini kebun binatang gede lho, satwanya banyak lho. Stafnya di-update nggak sama perkebunbinatangan, dan jawabnya belum pernah. Sepanjang pengalaman berumah kedua di situ, aku dapat impresi KBS ini sebetulnya masih beruntung punya staf yang setia meskipun digaji pas-pasan dan ilmunya nggak di-update. Harusnya mereka ini lebih dihargai keberadaannya. Dibanding jumlah satwa, keeper dan dokter hewan di sini terlalu sedikit di mana mereka harus membagi perhatiannya ke banyak satwa. Aku punya pasien satu anjing aja yang ngasuh satu orang, sedangkan KBS ini ckckck.. Well, untuk statistik jumlah staff vs satwa silakan datang cek sendiri, aku pun mengamati berdasarkan pengalaman volunteer di situ.

Kalau sampai ada singa tewas tergantung, itu artinya keamanan kandang kurang. Kalau ada satwa kena racun itu pertanda keamanan pakannya tidak diperhatikan. Mungkin kalau ada pihak-pihak independen yang bisa membantu KBS membangun sebuah kebun binatang yang ideal akan lebih baik. Ayo donk...

Kebun binatang bukan cuman tempat koleksi hewan dan cuman ditonton untuk hiburan. Kebun binatang selayaknya diperuntukkan untuk edukasi dan perkembangbiakkan. Tahu sendiri beberapa satwa endemis kita makin berkurang populasinya, dengan adanya kebun binatang diharapkan bisa mencegah kepunahan. Bahkan life span (lama hidup) satwa di kebun binatang rata-rata lebih lama dibanding di alam aslinya, lho. Jumlah satwa KBS yang dinilai cukup 'over' sebetulnya bukti kalau KBS berhasil mengembangbiakkan satwanya. Makanya jangan heran kalau ada berita satwa KBS mati karena usia dan kalau ditotal setahun jumlahnya seolah fantastis, ya emang karena populasinya banyak. Kalau memang kepenuhan, kenapa nggak sebaiknya dipindahkan ke lokasi yang layak. Malah aku sempat mikir, beberapa pulau di utara Jawa Timur bisa dijadikan tempat untuk satwa tertentu seperti harimau Sumatra. Memang rewilding/reintroduksi ke alam liar nggak mudah, tapi bukan berarti nggak mungkin dilakukan. Nantinya, kalau emang mau mikirin pendapatan (kalau mau maksain UUD), 'pulau Harimau Sumatra' bakal mendatangkan pelancong. Mirip-mirip pulau Komodo, gitu...

Pada saat aku ke sana, pas kebetulan ada salah stasiun TV mewawancarai salah seorang dokter hewan seniornya. Ini bukti KBS cukup terbuka dengan media. Beda kalau dibanding dengan satu lokasi eksitu (nggak usah disebut namanya) yang cukup tertutup dengan pemberitaan. Ada kasus satwa dan keeper tewas lolos dari liputan. Sedangkan di KBS, rusa mati karena tua aja heboh seolah-olah hewannya banyak yang mati. Meskipun tetap untuk kasus kematian tertentu yang tidak wajar, KBS memang patut untuk disentil.

Kembali ke kunjunganku ke KBS. Yah, secara umum kondisinya memang perlahan berbenah ketimbang waktu Daily Mail berkunjung (katanya sih mereka mengambil foto November 2013). Thanks to Daily Mail yang menyentil KBS untuk jadi lebih baik.

Mom di depan loket tiket. Di temboknya ada tulisan "PENGUMUMAN: Diberitahukan bahwa  TNI/POLRI dan keluarganya yang berkunjung ke Kebun Binatang Surabaya agar membeli tiket masuk seperti pengunjung umum Kebun Binatang Surabaya" . Yes, kami dari keluarga TNI beli tiket masuk juga kok..

Souvenir spot di dekat pintu masuk. JANGAN PERNAH BELI KACANG ATAU APAPUN UNTUK DIBERIKAN KE SATWA! Mendingan duitnya buat beli souvenir ini, seriusan! Satwa-satwa itu sudah diporsi pakannya jadi kalau dilempar-lemparin kacang akan menimbulkan banyak risiko, di antaranya obesitas dan tertularnya penyakit dari pengunjung. Sepanjang jalan-jalan banyakkkk banget yang lempar-lempar makanan, malah sak-bungkusnya sekalian bahkan ada manusia jahiliah lempar puntung rokok ke kandang beruk.... OK, yang ini pasti kena semprot jumbo level 1000 dari aku, so waspadalah.

Kandang beruk di dekat area masuk. Dulunya ini kandang orangutan. Beruk ini lucu banget, kalau dipanggil dia akan putar balik badan dan kasih pantatnya sambil kepalanya melongok dari bawah. Hehe..

Lonely Capuchin. Yes, dia masih sendiri... Persis yang dimuat di Daily Mail. Gimana ini KBS?

Tulisannya sih kandang landak, tapi isinya kucing.

Lokasi karantina satwa yang tentunya pengunjung tidak bisa akses masuk. Tapi ideal nggak sih bangunan karantina di situ? Bagaimana dengan satwa yang kena penyakit menular dan berpotensi menularkan penyakit via udara?
Rangka jerapah kalau memang diperuntukkan untuk edukasi, kurasa sih sah-sah aja. Asal nggak dijual aja lho

Si anak gajah tidak diikat lagi kakinya. Tapi OMG, kandang gajah ini bersebelahan langsung dengan rumah penduduk. Menurutku berbahaya banget, amit-amit ya jangan sampaiiii..kalau kenapa-kenapa misalnya di rumah tersebut ada gas meleduk (amit-amittttt) tentunya gajah-gajah ini akan terancam. Aku heran, perhiasan berlian aja disimpan hati-hati di brankas, lha ini gajah yang menurutku sangat berharga dan lebih berharga dari berlian ditempatkannya sembrono banget. 


Onta-onta ini riang gembira lalalili jalan ke sana kemari dan nggak nampak ada yang kurus
Harimau Benggala ini lagi main ciluk-ba dengan macan di seberang. Guenduuuuuuuuuttt banget ini macan!

Kandangnya sih kandang singa, tapi di mana hewannya? Ternyata lagi bobo siang, tuh keliatan kaki-kakinya. Hehe..
Petugas kebersihan rajin lalu-lalang membersihkan. Di dekat patung singa ini masih banyak sampah plastik, wahai pengunjung ,please donk Anda buang sampah di tempatnya 
Kandang komodo yang menurutku horor sekali, hanya dipisahkan tembok pemisah yang rendah dan berbatasan langsung dengan tempat pengunjung. Moga-moga nggak ada ortu iseng yang dudukin balitanya di bibir tembok.

Dulu waktu koas jaga di kandang ini, pernah dengar percakapan pengunjung -seorang ibu dan anaknya: Ibu: "Hayo, Le ini hewan apa?", si anak yang kira-kira masih SD itu menjawab dengan pedenya, "Anjing Laut!!". Si ibu tepok jidat, "Hush itu bukan anjing laut.. Itu namanya hewan lumba-lumba" .... Zonkkkkkkkkkk!!! Just in case ada yang nggak tahu, ini adalah kuda nil kerdil, sodara-sodara...
Tikus!!! Eh, orang utan... Btw, kok ada tikus sih di dalam kandang orang utan??? 
Kamu cantik, Mbak.. tapi kok nggak tahu sih kalau lempar kacang ke orang utang itu dilarang? 
Quiz tidak berhadiah: Hewan apakah ini? 
Mejeng di depan pintu masuk sebelum pulang. I'm gonna miss you, Surabaya Zoo. Aku akan kembali lagi. 

January blue: "So long, Aoi..."

Gong Xi fat Choi, everyone! Semoga di tahun ini aku semakin langsing dan sehat..

Januari ini sibuk packing pindahan kos. Daku pindah dari kosan lama gegara bukosnya freak ngusir kucingku semata wayang, namanya Aoi (fyi, Menik minggat jadi kucingku tinggal satu, inipun hasil adopsi dari jalanan). Nggak pakai komunikasi tatap muka segala macem, bukos pengecut menjijikkan itu beraninya main kirim surat dititipin ke bawah pintu dengan judul: “Perihal: Kucing Hitam Berkalung”. Bukos gajebo ini menulis, katanya kucingku masuk-masuk rumahnya. Padahaaaal lho, aku pernah lihat dia mancing-mancing Aoi pake makanan. Cih, untung sama dia nggak diracun atau dimakan. Dulu di awal mau nyewa sih diijinin bawa kucing tapi kenapa sekarang protes. Bahkan para tetangga juga bawa kucing dan anjing yang dibiarkan keliaran juga. Nggak ada jalan lain, Aoi harus kukasih ke adopter. Tapi ternyata seluruh penduduk dunia ini nggak ada yang mau nampung Aoi meskipun aku sudah share di FB dan twitter. Bahkan pengayom satwa menolak dengan alasan penuh! Jadi sangsi, deh, kalau baca di sosmed orang-orang yang sok-sokan sayang hewan tuh beneran apa sok aksi, ya. Masa, sih, kalian beneran sayang kucing? Buktinya nggak ada satupun dari kalian yang mau menampung Aoi-ku. Oke, ini aku nggak dendam kok, tapi nanti liat aja suatu saat kalian jadi gelandangan jangan minta aku untuk nampung kalian, OK! Sejak itu, aku memutuskan untuk pindah sekalian. Ngapain kasih makan bukos pake uang sewa kosan dariku. Nggak sudi! Pas balikin kunci, puengen rasanya nampol mukanya yang sok-sokan itu. Yah, aku ambil hikmahnya, toh daerah situ sangat rawan kriminalitas plus sewanya terlalu mahal 1.7juta/bulan mendingan buat beli rumah. Selain rawan pemerkosaan, daerah situ, sih, katanya banyak Kuntilanaknya. OMG, jangan-jangan bukos kalau malam berubah jadi…. 

OK fix, akhirnya Aoi `kubuang` di halaman kantor mengingat lokasinya luas, rindang, bersih, banyak kucing dan banyak makanan. Jangan ada yang marah-marah toh kalian juga nggak mau nampung! Sekarang ini kondisi Aoi punya banyak teman dan nggak kekurangan makanan. Alhamdulillah…  *diikhlas-ikhlasin meskipun berat*


"So long, Aoi... "   

Sementara masih mencari hunian baru, aku packing barang-barang di kosan di antaranya meja, tv, kulkas, mesin cuci, lemari baju, tempat tidur dan lain-lain. Sempet mikir apa aku pindah ke apartemen mumpung belum ada yang nyewa. Tapiii, tempatnya nggak cukup, sodara-sodara. Apartemenku sudah ada barangnya kalau ditambah lagi bakalan kepenuhan. Doakan aku ya bisa beli rumah. Amiiiin.. Oya, bagi yang punya info rumah sederhana, nggak banjir, nggak mahal (under 400 juta, pasti ada lah ya!), air bagus, transportasi gampang, aman, nyaman, dekat fasilitas umum (dekat mall wajib lho, hehe..) kalau bisa seputaran Ragunan-Kebagusan-Jagakarsa-Ciganjur, boleh deh aku di-emailin infonya. Please email me at mamisinga et yahoo dot com. Matur suwun!