
Ceritanya dapet tugas kerja ke Solo dua malam. Nggak banyak yang bisa di-explore karena waktu yang sempit dengan tempo kerja sampe tengah malam. Satu-satunya kesempatan adalah pagi sebelum gawe. Pagi-pagi keliling Solo naik becak. Ingat ya, naik becak. Soalnya kalau naik mobil itu selain polusi juga nggak bisa mampir ke toko-toko batik yang lokasinya masuk-masuk gang. Lagipula naik becak keliling Solo murah banget cuman dikasih harga 15 ribu lho! Aku sampe kasian sama pak becaknya, pengen gantiin mancal. Gini-gini aku punya pengalaman ngayuh becak (kalo nggak percaya lihat betisku). Tapi yah berhubung enggak enak sama pak becaknya takut ganti kumintain ongkos, maka kuurungkan niat tulusku itu.. Dan memilih membayar lebih saja daripada gantian mbecak.

paha yang langsing...
Akhirnya putar-putar di beberapa toko batik yang sudah buka dari jam 7 pagi di sekitar Kauman. Beberapa toko rada nggak sreg sama harganya, sampai akhirnya ketemu butik batik Gunawan Kauman. Di situ ada banyak batik yang cantik-cantik. Harganya mulai puluhan ribu sampe jutaan. Tapi worth it lah! Di situ aku diajak cobain bikin batik segala. Sepulang dari butik itu borong batik sama cantingnya sekalian. Meskipun nggak tau kapan mau dipakenya...
melukis batik tulis.. padahal dilukis ya bukan ditulis
Oya, selain murah dan accesible, naik becak itu bisa nambah wawasan tentang Solo. Bapak becak biasanya memberi saran mengenai tempat-tempat yang recommended untuk dikunjungi. Beruntung aku dapat pak becaknya yang baik banget, selain dikasih tau tempat-tempat seru dia juga nanya aku udah sarapan apa belum. Aku jawab dengan semangat kalau laper banget dan pengen cemilan! Si Pak becaknya sepertinya bingung untuk mencarikan cemilan dibawanya putar-putar sampe nemu toko yang buka. Sampailah kami ke depan toko roti.
"Pak, saya mau cemilan. Bukan roti..." ujarku nggak enak ati karena udah jauh-jauh ternyata aku-nya nggak mau.
"Cemilan apa biasanya?" Tanya si Pak becak.
"Nasi, Pak.. Kalau bisa lauknya yang ada ayamnya..."
Si Pak becak tepok jidat. "Lha, Mbak kalo gitu makan gudeg aja di dekat hotel ada tuh enak banget." Si Pak becaknya menggumam, "Byuh, cemilan kok nasi.."
Sampailah kami di restoran yang jualan gudeg. Enak banget, tapi aku lupa nama resto nya. Pokoknya ke luar gang dari hotel Solo Paragon belok ke kanan. Kira-kira 200 meter di situlah tempatnya.
Cemilan malam namanya Cabo Rambak sempat aku cobain. Rasanya seh biasa aja dan porsinya dikit banget. Yah pada dasarnya aku nggak suka makanan manis. Penampakannya seperti ini:
porsi dikit, ngotor-ngotorin gigi..

