Saturday, February 01, 2014

Surabaya zoo, I miss you!


Pertengahan Januari lalu aku ditemenin mom menyempatkan diri mampir ke Kebun Binatang Surabaya (KBS) yang sempat terkenal sedunia itu. Bukan karena prestasinya, tapi karena beberapa berita buruk yang berhari-hari mampir di media massa cetak maupun elektronik. Sedih! KBS itu rumah kedua-ku di Surabaya, tempat teman-teman terbaikku tinggal. Aku pernah kerja libur di sana beberapa lama sampai ikutan mengasuh singa-singa dan harimau, makanya aku sampai dipanggil "mamisinga".

Pertama kali dengar Melani harimau Sumatra yang tinggal kulit dan tulang, perasaanku sedih. Kok bisa-bisanya sih, ngapain aja KBS selama ini. HARUSnya nggak perlu sampai ada jurnalis ngelapor dulu di media baru bertindak. HARUSnya Melani dapat pertolongan sejak awal. HARUSnya.... ah, sutralah.. Melani sekarang sudah di tempat yang lebih baik. Thanks to all people who help her. Cek update selengkapnya di sini.

Setelah baca berita KBS di sini, aku makin mantap ke Surabaya untuk menilik kabar terbarunya. Sempat diberitakan walikota Ibu Risma menyangkal dan meyakinkan bahwa KBS sekarang jauh lebih baik (baca selengkapnya di sini). Padahal saat itu muncul berita tentang tewasnya singa Michael tergantung di kandangnya. Kok bisa sih, Bu, Anda bilang KBS jauh lebih baik? Ibu walkot juga mengait-ngaitkan adanya beberapa pihak yang menginginkan lahan KBS jadi resto atau hotel. Yah, UUD (ujung ujungnya duit). Ayo Bu Risma, bantu perbaiki KBS.

Menurutku KBS itu masih banyak yang perlu dibenahi. Sempat nostalgia ngobrol sama staf di sana. Rada kaget juga, aku tanya, beberapa tahun  apa pernah para staff dikasih pelatihan khusus. Ini kebun binatang gede lho, satwanya banyak lho. Stafnya di-update nggak sama perkebunbinatangan, dan jawabnya belum pernah. Sepanjang pengalaman berumah kedua di situ, aku dapat impresi KBS ini sebetulnya masih beruntung punya staf yang setia meskipun digaji pas-pasan dan ilmunya nggak di-update. Harusnya mereka ini lebih dihargai keberadaannya. Dibanding jumlah satwa, keeper dan dokter hewan di sini terlalu sedikit di mana mereka harus membagi perhatiannya ke banyak satwa. Aku punya pasien satu anjing aja yang ngasuh satu orang, sedangkan KBS ini ckckck.. Well, untuk statistik jumlah staff vs satwa silakan datang cek sendiri, aku pun mengamati berdasarkan pengalaman volunteer di situ.

Kalau sampai ada singa tewas tergantung, itu artinya keamanan kandang kurang. Kalau ada satwa kena racun itu pertanda keamanan pakannya tidak diperhatikan. Mungkin kalau ada pihak-pihak independen yang bisa membantu KBS membangun sebuah kebun binatang yang ideal akan lebih baik. Ayo donk...

Kebun binatang bukan cuman tempat koleksi hewan dan cuman ditonton untuk hiburan. Kebun binatang selayaknya diperuntukkan untuk edukasi dan perkembangbiakkan. Tahu sendiri beberapa satwa endemis kita makin berkurang populasinya, dengan adanya kebun binatang diharapkan bisa mencegah kepunahan. Bahkan life span (lama hidup) satwa di kebun binatang rata-rata lebih lama dibanding di alam aslinya, lho. Jumlah satwa KBS yang dinilai cukup 'over' sebetulnya bukti kalau KBS berhasil mengembangbiakkan satwanya. Makanya jangan heran kalau ada berita satwa KBS mati karena usia dan kalau ditotal setahun jumlahnya seolah fantastis, ya emang karena populasinya banyak. Kalau memang kepenuhan, kenapa nggak sebaiknya dipindahkan ke lokasi yang layak. Malah aku sempat mikir, beberapa pulau di utara Jawa Timur bisa dijadikan tempat untuk satwa tertentu seperti harimau Sumatra. Memang rewilding/reintroduksi ke alam liar nggak mudah, tapi bukan berarti nggak mungkin dilakukan. Nantinya, kalau emang mau mikirin pendapatan (kalau mau maksain UUD), 'pulau Harimau Sumatra' bakal mendatangkan pelancong. Mirip-mirip pulau Komodo, gitu...

Pada saat aku ke sana, pas kebetulan ada salah stasiun TV mewawancarai salah seorang dokter hewan seniornya. Ini bukti KBS cukup terbuka dengan media. Beda kalau dibanding dengan satu lokasi eksitu (nggak usah disebut namanya) yang cukup tertutup dengan pemberitaan. Ada kasus satwa dan keeper tewas lolos dari liputan. Sedangkan di KBS, rusa mati karena tua aja heboh seolah-olah hewannya banyak yang mati. Meskipun tetap untuk kasus kematian tertentu yang tidak wajar, KBS memang patut untuk disentil.

Kembali ke kunjunganku ke KBS. Yah, secara umum kondisinya memang perlahan berbenah ketimbang waktu Daily Mail berkunjung (katanya sih mereka mengambil foto November 2013). Thanks to Daily Mail yang menyentil KBS untuk jadi lebih baik.

Mom di depan loket tiket. Di temboknya ada tulisan "PENGUMUMAN: Diberitahukan bahwa  TNI/POLRI dan keluarganya yang berkunjung ke Kebun Binatang Surabaya agar membeli tiket masuk seperti pengunjung umum Kebun Binatang Surabaya" . Yes, kami dari keluarga TNI beli tiket masuk juga kok..

Souvenir spot di dekat pintu masuk. JANGAN PERNAH BELI KACANG ATAU APAPUN UNTUK DIBERIKAN KE SATWA! Mendingan duitnya buat beli souvenir ini, seriusan! Satwa-satwa itu sudah diporsi pakannya jadi kalau dilempar-lemparin kacang akan menimbulkan banyak risiko, di antaranya obesitas dan tertularnya penyakit dari pengunjung. Sepanjang jalan-jalan banyakkkk banget yang lempar-lempar makanan, malah sak-bungkusnya sekalian bahkan ada manusia jahiliah lempar puntung rokok ke kandang beruk.... OK, yang ini pasti kena semprot jumbo level 1000 dari aku, so waspadalah.

Kandang beruk di dekat area masuk. Dulunya ini kandang orangutan. Beruk ini lucu banget, kalau dipanggil dia akan putar balik badan dan kasih pantatnya sambil kepalanya melongok dari bawah. Hehe..

Lonely Capuchin. Yes, dia masih sendiri... Persis yang dimuat di Daily Mail. Gimana ini KBS?

Tulisannya sih kandang landak, tapi isinya kucing.

Lokasi karantina satwa yang tentunya pengunjung tidak bisa akses masuk. Tapi ideal nggak sih bangunan karantina di situ? Bagaimana dengan satwa yang kena penyakit menular dan berpotensi menularkan penyakit via udara?
Rangka jerapah kalau memang diperuntukkan untuk edukasi, kurasa sih sah-sah aja. Asal nggak dijual aja lho

Si anak gajah tidak diikat lagi kakinya. Tapi OMG, kandang gajah ini bersebelahan langsung dengan rumah penduduk. Menurutku berbahaya banget, amit-amit ya jangan sampaiiii..kalau kenapa-kenapa misalnya di rumah tersebut ada gas meleduk (amit-amittttt) tentunya gajah-gajah ini akan terancam. Aku heran, perhiasan berlian aja disimpan hati-hati di brankas, lha ini gajah yang menurutku sangat berharga dan lebih berharga dari berlian ditempatkannya sembrono banget. 


Onta-onta ini riang gembira lalalili jalan ke sana kemari dan nggak nampak ada yang kurus
Harimau Benggala ini lagi main ciluk-ba dengan macan di seberang. Guenduuuuuuuuuttt banget ini macan!

Kandangnya sih kandang singa, tapi di mana hewannya? Ternyata lagi bobo siang, tuh keliatan kaki-kakinya. Hehe..
Petugas kebersihan rajin lalu-lalang membersihkan. Di dekat patung singa ini masih banyak sampah plastik, wahai pengunjung ,please donk Anda buang sampah di tempatnya 
Kandang komodo yang menurutku horor sekali, hanya dipisahkan tembok pemisah yang rendah dan berbatasan langsung dengan tempat pengunjung. Moga-moga nggak ada ortu iseng yang dudukin balitanya di bibir tembok.

Dulu waktu koas jaga di kandang ini, pernah dengar percakapan pengunjung -seorang ibu dan anaknya: Ibu: "Hayo, Le ini hewan apa?", si anak yang kira-kira masih SD itu menjawab dengan pedenya, "Anjing Laut!!". Si ibu tepok jidat, "Hush itu bukan anjing laut.. Itu namanya hewan lumba-lumba" .... Zonkkkkkkkkkk!!! Just in case ada yang nggak tahu, ini adalah kuda nil kerdil, sodara-sodara...
Tikus!!! Eh, orang utan... Btw, kok ada tikus sih di dalam kandang orang utan??? 
Kamu cantik, Mbak.. tapi kok nggak tahu sih kalau lempar kacang ke orang utang itu dilarang? 
Quiz tidak berhadiah: Hewan apakah ini? 
Mejeng di depan pintu masuk sebelum pulang. I'm gonna miss you, Surabaya Zoo. Aku akan kembali lagi. 

January blue: "So long, Aoi..."

Gong Xi fat Choi, everyone! Semoga di tahun ini aku semakin langsing dan sehat..

Januari ini sibuk packing pindahan kos. Daku pindah dari kosan lama gegara bukosnya freak ngusir kucingku semata wayang, namanya Aoi (fyi, Menik minggat jadi kucingku tinggal satu, inipun hasil adopsi dari jalanan). Nggak pakai komunikasi tatap muka segala macem, bukos pengecut menjijikkan itu beraninya main kirim surat dititipin ke bawah pintu dengan judul: “Perihal: Kucing Hitam Berkalung”. Bukos gajebo ini menulis, katanya kucingku masuk-masuk rumahnya. Padahaaaal lho, aku pernah lihat dia mancing-mancing Aoi pake makanan. Cih, untung sama dia nggak diracun atau dimakan. Dulu di awal mau nyewa sih diijinin bawa kucing tapi kenapa sekarang protes. Bahkan para tetangga juga bawa kucing dan anjing yang dibiarkan keliaran juga. Nggak ada jalan lain, Aoi harus kukasih ke adopter. Tapi ternyata seluruh penduduk dunia ini nggak ada yang mau nampung Aoi meskipun aku sudah share di FB dan twitter. Bahkan pengayom satwa menolak dengan alasan penuh! Jadi sangsi, deh, kalau baca di sosmed orang-orang yang sok-sokan sayang hewan tuh beneran apa sok aksi, ya. Masa, sih, kalian beneran sayang kucing? Buktinya nggak ada satupun dari kalian yang mau menampung Aoi-ku. Oke, ini aku nggak dendam kok, tapi nanti liat aja suatu saat kalian jadi gelandangan jangan minta aku untuk nampung kalian, OK! Sejak itu, aku memutuskan untuk pindah sekalian. Ngapain kasih makan bukos pake uang sewa kosan dariku. Nggak sudi! Pas balikin kunci, puengen rasanya nampol mukanya yang sok-sokan itu. Yah, aku ambil hikmahnya, toh daerah situ sangat rawan kriminalitas plus sewanya terlalu mahal 1.7juta/bulan mendingan buat beli rumah. Selain rawan pemerkosaan, daerah situ, sih, katanya banyak Kuntilanaknya. OMG, jangan-jangan bukos kalau malam berubah jadi…. 

OK fix, akhirnya Aoi `kubuang` di halaman kantor mengingat lokasinya luas, rindang, bersih, banyak kucing dan banyak makanan. Jangan ada yang marah-marah toh kalian juga nggak mau nampung! Sekarang ini kondisi Aoi punya banyak teman dan nggak kekurangan makanan. Alhamdulillah…  *diikhlas-ikhlasin meskipun berat*


"So long, Aoi... "   

Sementara masih mencari hunian baru, aku packing barang-barang di kosan di antaranya meja, tv, kulkas, mesin cuci, lemari baju, tempat tidur dan lain-lain. Sempet mikir apa aku pindah ke apartemen mumpung belum ada yang nyewa. Tapiii, tempatnya nggak cukup, sodara-sodara. Apartemenku sudah ada barangnya kalau ditambah lagi bakalan kepenuhan. Doakan aku ya bisa beli rumah. Amiiiin.. Oya, bagi yang punya info rumah sederhana, nggak banjir, nggak mahal (under 400 juta, pasti ada lah ya!), air bagus, transportasi gampang, aman, nyaman, dekat fasilitas umum (dekat mall wajib lho, hehe..) kalau bisa seputaran Ragunan-Kebagusan-Jagakarsa-Ciganjur, boleh deh aku di-emailin infonya. Please email me at mamisinga et yahoo dot com. Matur suwun! 

Monday, September 09, 2013

Miss-miss an

Oke mari kita simak foto kontes putri-putrian ala ala di dunia...


Miss Arab World 2009 (sumber: klik link)

Miss USA 2012 (sumber: klik link)

Miss Indonesia 2012 (sumber: http://missindonesia.co.id/)

dan masih banyak miss miss an yang lain...

Komentarku kontes miss-miss an ini menurutku ya memang menampilkan wanita-wanita yang cuantekk parasnya, semampai tubuhnya. Kalau mengenai kepintaran, nggak begitu yakin. Secara bisa aja waktu karantina mereka sudah latihan menjawab pertanyaan dan daftar pertanyaan sudah pada dikasih tau, tinggal tebak-tebak buah manggis mereka dapat pertanyaan yang mana. Haehehe ya nggak sih..

Sebetulnya aku nggak hobi nonton ajang miss-miss an, pasti kamu juga kan! Coba sebutin siapa pemenang Miss World 2009-2012, tahu nggak? Malesnya itu, bukan karena iri sama langsingnya atau cantiknya mereka lho, toh masih jauh cantikan emakku lah! Tapi berhubung ada kelompok yang anti sama miss-miss an ini, justru malah bikin aku pengen nonton. Makanya, ngapain demo segala. Ini 2013 woyyyy, masih ada aja kelompok yang diperbudak politik dengan demonstrasi ora jelas. OK, semalam nonton pembukaan kontes Miss World yang diputar di satu stasiun tv live dari Nusa Dua Bali. Terpesona sama kecantikan mereka yang bak boneka pakai baju adat daerah Indonesia. Mungkin sekedar ajang hore di pembukaan ya, jadi mereka pada pakai baju adat Indonesia. Tapi sejujurnya aku lebih suka mereka pakai baju adat mereka masing-masing. Karena kontes miss-miss an ini kan harusnya menunjukkan keotentikan wanita ciri khas negaranya. Atau mungkin mereka pakai baju negaranya pas penjurian di sesi lain.. hehe.. let's see.

Friday, July 12, 2013

Awarded Senior Contributor by TripAdvisor

Many thanks to TripAdvisor for the tote bag!

Amplopnya gedeeeee... pertama kali terima dari security langsung girang!

Hihohohoahuehue... after hibernasi dari blog poppopmeong akhirnya aku muncul dari gua. Sebetulnya sih dari kemaren-kemaren nengokin cuman nggak update di sini tapi di marih (<klik ini). Horee akhirnya aku jadi pedagang. Alhamdulillah ya sesuatu, hikmah dari gaji nggak dibayar-bayar akhirnya dagang. Tapi dibuat sambilan ajah, karena nggak punya waktu banyak.

Ke manakah diriku kok sampe nggak punya waktu banyak? Jawabnya: sibuk ngeluyur, tapi bukan untuk vacation yah (ya sibuk dagang juga sih). Beberapa kali ditugasin ke luar kota dan ke luar propinsi bahkan pulau dan ngincipin beberapa hotel dan warung sambil nulis testi di tripadvisor. Hasilnya?? Iseng punya iseng hasil keisengan ngirim review ini dihargai dengan ucapan terima kasih, trus dapat gelar Senior Contributor, dan tas cantik yang bikin ngiri temen-temen se-kebun binatang termasuk bosku yang galak nan kece dan tidak pernah sisiran (soalnya tidak punya rambut kepala). Dia sampai nanya ID ku di tripadvisor apa.. kayae sih doi mau stalking gitu.. hahaha...  Sebut `mamisinga cantik` 3x kalau mau tas ini!


"Saya pergi dulu ya..!"

                                     
                                       Hello Senior Contributor! ... Ohh~ kereeen yaa


Dapet award ini seneng lho bisa berbagi info dengan traveller yang lain, meskipun nggak dapat duit dari menulis review tersebut yang nggak kayak penulis-penulis buku yang tentunya dapat loyalti. Trus kenapa yang pada nulis buku nggak dapet award ini? Ya pastinya duonkk, kan yang nulis buku jalan-jalan `biasanya` backpacker. Backpacker rata-rata cari gratisan nginepnya di rumah sodara atau temen kenal di internet, ya apanya yang mau direview. Hahaaaa..  *ditendang ke bulan sama backpackers*

Sunday, March 17, 2013

Cara membuat kulot santai

Hari ini aku flu berat, gegaranya setrika sampai keringat nggobyos plus cuacanya lagi panas terus mandi dan kena AC. Langsung, deh, bersin-bersin 23 kali (hebat ya sampai kuhitung). Kalau gering gini, paling nggak bisa istirahat malah nggelithis pengen ngapain gitu. Pas lagi bersih-bersih nemu kain semeteran dua biji hasil berburu kain murah di Mayestik entah kapan lupa. Toko kain langgananku di Nuri, lokasinya deket pintu keluar. Di situ suka ada kain 10.000-an/m meskipun ya kualitasnya biasa aja, tipis bo! Kadang nggak mikir lagi butuh kain apa enggak, beliii aja.. Hehehe.. eh tapi berguna juga, aku bikin kulot santai buat di rumah. 

Bikin kulot ini gampang, nggak perlu pola, nggak perlu waktu lama. Cukup 15 menit! Asalkan ada mesin jahit ya pasti cepet.. Cusss, gini caranya:

Bahan: 
  1. kain se-meter (lebar 115cm) untuk kulot setinggi atas lutut.
  2. elastis band dan peniti
  3. benang dan jarum jahit buat yang nggak punya mesin jahit.


Langkah-langkah pembuatan:

1. Untuk pola-nya aku pakai kulotku yang kebetulan ukurannya udah nggak cukup. Yah, maklum kebanyakan dicuci jadinya nyusut...  Lipat kain menjadi empat bagian, seperti ini:
2. Letakkan kulot lama (item) di atas kain yang sudah dilipat. Kulot itemnya dilipat sedemikian rupa. Kemudian gunting mengikuti bentuk pola. Untuk ukurannya suka-suka, aku bikin segede mungkin, soalnya pertama: kulot item ini hanya contoh dan kekecilan, jadi dikira-kira harus lebih besar, kedua: karena modelnya pinggang kerut jadi harus dibuat selebar mungkin.

3. Perhatikan sisi tingginya ada sisi tinggi panjang dan sisi tinggi pendek. Jahit sisi tinggi pendeknya dulu. Ini kebetulan sisi pendeknya nyambung 1-2, jadinya aku nggak perlu jahit untuk menyambungnya. Tapi buat yang udah terlanjur tergunting harus disambung. Sisi tinggi pendek ini letaknya di paha dalam, jadi depan (1) belakang (2) dijahit menyatu. Setelah itu jahit bagian kurva menindas sisi kain b-a.

4. Cara menjahit cukup dengan jahitan lurus, lalu untuk merapikan tepi jahitannya bisa pakai jahitan zig-zag sebagai semi obras. Bonus skrinsut tanganku:

5. Setelah sisi paha dalam terjahit dan kurva di tengah yang menghubungkan pantat dan depan, dilanjut dengan menjahit sisi tingginya di kanan dan kiri. Lihat gambar di atas (dua gambar ke atas), sisi 1 tinggi panjang dihubungkan dan dijahit dengan sisi tinggi panjang 2 , hasilnya seperti gambar di bawah. Oiya, jangan lupa semua langkah pembuatan ini menjahitnya di bagian kain yang dalam, ya:

6. Untuk ban pinggang, tekuk kain ke dalam dan jahit melingkari dengan menyisakan sekitar 3 cm untuk tempat memasukkan elastic band. Supaya mempermudah karet masuk, pakai bantuan peniti. Liat langkahnya dari atas ke bawah:

7. Untuk finishing, ujung-ujung bawah kulot bisa dijahit dengan menekuk tepiannya ke dalam supaya jahitan rapi. Voila! Jadilah kulot santai. Mudah, kan!

Sisa kain bisa digunakan dibentuk pita sebagai pemanis. Kalau prinsip dasarnya sudah paham, bisa kemudian modifikasi kulot-kulot cantik, misalnya celana piyama untuk tidur atau kulot sexy alias hot pants buat ke pantai. Nah kalau untuk membuat hot pants ini, tentunya pakai pola yang mempertimbangkan kurva pantat dan depan yang presisi supaya dipakai pas badan. Selamat mencoba!